Membina Generasi Harapan

Teladan Sepnjang Zaman :Talhah -bisakah menikmati aroma syahid yang mengasyikan.


Oleh: Faridul Farhan Abd Wahab

“bisakah menikmati aroma syahid yang mengasyikkan?”
Orang tua itu kelihatannya seperti orang biasa. Namun, resume amal yang dicatatkannya, sungguh sebuah kisah perjuangan yang luar biasa. Hingga saja tatkala terbit lagi panggilan jihad, di saat ia sedang meniti usia-usia emasnya, tetap terpancut semangat juangnya yang tinggi, lalu menyeru anak-anaknya, untuk bersama-sama dalam pasukan jihad ini.

Tapi, ia sudah tersangat tua. Dan jasa-jasanya pada Islam sudah menggunung tinggi. Masakan saja anak-anaknya khuatir. “Semoga ALLAH mengurniakan rahmat-Nya kepada ayah. Ayah! Ayah telah berjihad bersama Rasulullah SAW sepanjang hayatnya sampai baginda wafat, bersama Abu Bakar hingga ia wafat, bersama Umar hingga ia wafat, maka biarlah kali ini, kami yang keluar berjihad untukmu.”[1] Permintaan putra-putranya justeru sangat munasabah. Tetapi tidak bagi seorang Abu Thalhah. Sungguh, bagaimana mungkin ia memberi uzur untuk duduk-duduk di rumah, sedang ayat ALLAH sangat segar di ingatan dan kehidupan sahabat R.A nan mulia ini.

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

(Surah at-Taubah [9]:41)
Lalu, ia berangkat saja ke medan jihad melalui laut, hingga maut datang menjemputnya ke gerbang syahid. Dan ALLAH pun memuliakan jenazahnya. Tak rosak biar sedikit pun, tidak membusuk hatta secumit pun, walau hanya bisa dikuburkan pasca tujuh hari kesyahidannya. [2]

Beberapa zaman terkemudiannya, lelaki itu sudah berada di posisi terbaik lagi selesa untuk membelai-belai kemewahan dan kesenangan dunia. Jawatan sebagai pensyarah tepatnya di Universiti Islam Antarabangsa Islamabad (IIU)- sering sangat sulit untuk dilepaskan, tetapi ternyata tidak bagi seorang Abdullah Azzam. Ia merasakan tugasnya sebagai pensyarah memendekkan waktunya untuk berjihad. Lalu, ia susun kembali jadualnya. 3 hari untuk kerjaya, 4 hari untuk berjihad. Ternyata, tidak cukup! Lalu disusunnya kembali: 2 hari untuk kerjaya, 5 hari untuk berjihad. Hingga, pada tahun 1984, ia tetap merasakan pemberian masanya di jalan ALLAH belum cukup, lalu ia berhenti kerja, menggantikan maisyah (sumber pendapatan) serba selesa kepada pengharapan dan penyerahan diri pada ALLAH, di jalan ALLAH, sebagai pejuang ALLAH sepenuh masa. [3]

Subhanallah! Berapa ramai yang sudi menggadaikan kerjaya yang serba mengasyikkan, dengan kerjaya fi sabiliLLAH nan membawakan kemuliaan? Berapa ramaikah yang sanggup menukarkan imbuhan duniawi, dengan ganjaran pahala dan Syurga ukhrawi? Berapa ramaikah di antara kita, yang bisa melupakan ranjang nan enak, untuk mengimpikan mati syahid dan kehidupan abadi?

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”

(Surah al-Baqarah [2]:245)
Ke manakah hilangnya jiwa-jiwa pengorbanan Abu Thalhah ini? Ke manakah perginya kesungguhan jiwa-jiwa Abdullah Azzam ini? Kenapa begitu sibuk manusia dengan urusan dunia, hingga tergamak membiarkan agamanya tidak terbela, dan umatnya tertindas diseksa? Kenapa begitu mulia khidupan dunia di sudut pemandangan manusia, sedang keluasan perkampungan Akhirat justeru tidak terkira? “Kita akan mati juga satu hari nanti, entah disebabkan oleh Apache ataupun sakit jantung,” kata Abdul Aziz ar-Rantisi, “dan saya memilih untuk mati dibom oleh Apache ( Israel ).” [4] Dan sungguh, ALLAH mengurniakan kemuliaan itu buat dirinya!

Hayatilah bersama, pesanan terakhir Syeq Qutb[5] ini, beberapa saat sebelum memperoleh kemuliaannya di tiang gantung:
Saudara!
Seandainya kau tangisi kematianku,
Dan kau siram pusaraku dengan air matamu
Maka di atas tulang-tulangku yang hancur luluh,
Nyalakanlah obor buat ummat ini
Dan……
Teruskan perjalanan ke gerbang jaya
Saudara!
Kematanku adalah suatu perjalanan
Mendapatkan kekasih yang sedang merindu
Taman-taman di syurga Tuhanku bangga menerimaku
Burung-burungnya berkicau riang menyambutku
Bahagialah hidupku di alam abadi
Saudara!
Puaka kegelapan pasti akan hancur
Dan alam ini akan disinari fajar lagi
Biarlah rohku terbang mendapatkan rindunya
Janganlah gentar berkelana di alam abadi
Nun di sana
Fajar sedang memancar…..

RUJUKAN
[1] Tafsir surah at-Taubah [9]:41 oleh Ibnu Katsier dengan sedikit penambah baikan terhadap terjemahan tafsiran oleh penulis. Rujuk Ibnu Katsier, “Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsier (Jilid 4)”, Victory Agencie (1988), ms. 56-57

[2] Tafsir surah at-Taubah [9]:41 oleh Hamka. Rujuk Prof. Dr. Hamka, “Tafsir al-Azhar (Juzu’ 10-11-12)”, Pustaka Panjimas (1985), ms. 221-222

[3] Ibnu Ismail, “Abdullah Azzam: Merintis Khilafah Yang Hilang”, Pustaka Syuhada (2001), ms. 6-7
[4] Abdullah Azzam dan lain-lain, “ Surat Dari Garis Depan (Suara Hati Tokoh Perlawanan)”, Jazera (2006)
[5] Syed Qutb, “Petunjuk Sepanjang Jalan”, Crescent News (K.L.) Sdn. Bhd. (2000)

2 responses

  1. artikel yg cukup menyentuh dan membangkitkan smgt. teruskan..!

    August 31, 2007 at 4:44 am

  2. JazakaLLAH khairan kerana menyiarkan artikel ana..

    October 23, 2007 at 1:17 pm

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s