Membina Generasi Harapan

Formula Mendapat Keampunan Allah Di Fasa Pertengahan Ramadhan

 

Para Hadirin,pelajar yang dirahmati Allah..

  • Dan segeralah kamu kepada (mengerjakan amal-amal yang baik untuk mendapat) keampunan dari Tuhan kamu, dan (mendapat) Syurga yang bidangnya seluas segala langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa;
    Iaitu orang-orang yang mendermakan hartanya pada masa senang dan susah, dan orang-orang yang menahan kemarahannya, dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang. Dan (ingatlah), Allah mengasihi orang-orang yang berbuat perkara-perkara yang baik;

úïÏ%©!$#ur #sŒÎ) (#qè=yèsù ºpt±Ås»sù ÷rr& (#þqßJn=sß öNæh|¡àÿRr& (#rãx.sŒ ©!$# (#rãxÿøótGó™$$sù öNÎgÎ/qçRä‹Ï9 `tBur ãÏÿøótƒ šUqçR—%!$# žwÎ) ª!$# öNs9ur (#r•ŽÅÇム4’n?tã $tB (#qè=yèsù öNèdur šcqßJn=ôètƒ ÇÊÌÎÈ

  • Dan juga orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji, atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun akan dosa mereka – dan sememangnya tidak ada yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah -, dan mereka juga tidak meneruskan perbuatan keji yang mereka telah lakukan itu, sedang mereka mengetahui (akan salahnya dan akibatnya).

  • Orang-orang yang demikian sifatnya, balasannya ialah keampunan dari Tuhan mereka, dan Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya; dan yang demikian itulah sebaik-baik balasan (bagi) orang-orang yang beramal – [Ali Imran – 133-135]

Kini, kita telah pun berada dipertengahan Ramadhan.. [Bulan yg pada awalnya RAHMAT.. pertengahannya KEAMPUNAN.. dan akhirnya PEMBEBASAN DARI NERAKA]  – Betapa besarnya kurniaan Allah kepada kita dengan peluang ini.

 

Bersamalah kita ikhwah/at berusaha membersihkan diri kita dari sebarang kotoran dosa yang sememangnya banyak melekat pada diri kita, hari-hari yang dipenuhi RAHMAT telahpun berlalu.. Janganlah pula kita menjadi golongan yang binasa kerana terlepas daripada peluang mendapat pengampunan Allah ini.. [Binasa dan rugilah.. mereka yang sempat dengan Ramadhan.. tetapi tidak mendapat pengampunan Allah]

 

Formula mendapat keampunan Allah..

 

1. Menghidupkan Ramadhan dengan keimanan & pengharapan

 

[Siapa yang menghidupkan (memenuhkannya dengan amal) Ramadhan, dengan penuh keimanan serta pengharapan (kepada keredhaan Allah).. Maka diampunkan segala dosa-dosanya yang telah lalu]

  • Perbaikilah kualiti puasa kita

  • Banyakkan tilawah & tadabbur al Quran

  • Banyakkan bersedekah

  • Pastikan malam Ramadhan kita tidak berlalu tanpa Qiamullail

2. Mengampunkan segala kesalahan orang lain kepada kita

 

[..berikanlah keampunan.. kemaafan.. Tidakkah kamu suka agar Allah mengampunkan kamu ? Sesungguhnya Allah itu maha pengampun lagi memberi rahmat]

 

  • Ampunkanlah segala dosa & kesalahan ikhwh/at kepada anda

  • Maafkanlah segala dosa ahli keluarga & saudara mara anda

  • Sejukkanlah hati anda dengan mengampunkan dosa manusia, nescaya Allah akan menyejukkan hati anda dengan kempunanNya

3. Sedekah boleh membawa pengampunan

 

[Dan jika kamu memberi pinjaman kepada Allah, sebagai pinjaman yang baik, nescaya Allah akan menggandakan balasanNya serta mengampunkan dosa-dosa kamu; dan Allah amat memberi penghargaan dan balasan kepada golongan yang berbuat baik, lagi Maha Penyabar (untuk memberi peluang kepada golongan yang bersalah supaya bertaubat)]

 

  • Pastikan ikhwah/at ada bersedekah w`pun sedikit pada setiap hari Ramadhan

  • Jgn lupa bantuan kita untuk saudara kita di Palestin..

4. Istighfar pada waktu sahur

 

Banyakkanlah istighfar ikhwah/at pada bulan ini.. [Sesungguhnya hait-haii manusia itu berkarat ibarat tembaga, dan pengilatnya adalah Istighfar].

 

Terutama pada waktu-waktu sahur (2/3 malam). Terdapat dua kali di dalam al Quran, Allah memuji mereka yang beristighfar pada waktu sahur.. al Zariyat, ayat 18 dan juga Ali Imran, ayat 17.

 Í‘$ptôžF{$$Î/ur öLèe tbrãÏÿøótGó¡o„ ÇÊÑÈ tûïΎÉ9»¢Á9$# šúüÏ%ω»¢Á9$#ur šúüÏFÏZ»s)ø9$#ur šúüÉ)ÏÿYßJø9$#ur šúï̍ÏÿøótGó¡ßJø9$#ur ͑$ysó™F{$$Î/ ÇÊÐÈ  

  • Ambillah peluang bangun bersahur untuk membangunkan malam kita

  • Jangan lupa membaca doa rabithah dan doakan semua ikhwah/at kita di seluruh dunia, juga buat semua pejuang-pejuang di jalan Allah & seluruh muslimin…

 

Amin..ya Rabbal `alamin.. Wallahua`lam. .

  

3 responses

  1. Assalamu’alaykum,

    bukankah hadith ini hadith dhaif:
    “Awalnya adalah rahmah, tengahnya keampunan, akhirnya adalah pembebasan dari neraka”?

    Sekadar melontar persoalan…

    September 26, 2007 at 11:56 am

  2. Assalamualaikum,

    Terima kasih atas lontaran soalan.Memang Hadis ini diketogerikan Dhaif tetapi ustaz berpegang kepada pandangan kelompok kedua terutama dalam bab Fadoil Amal .Sila rujuk untuk mendapat tambahan ilmu.

    Kalau kita telusuri pendapat para ulama, paling tidak kita dapati tiga kecenderungan yang berbeda dalam menanggapi masalah hadits dhaif.
    1. Kelompok Pertama

    Mereka adalah kalangan yang secara mutlak menolak mentah-mentah semua hadits dhaif. Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga. Baik masalah keutamaan (fadhilah), kisah-kisah, nashehat atau peringatan. Apalagi kalau sampai masalah hukum dan aqidah. Pendeknya, tidak ada tempat buat hadits dhaif di hati mereka.
    Di antara mereka terdapat nama Al-Imam Al-Bukhari, Al-Imam Muslim, Abu Bakar Al-Arabi, Yahya bin Mu’in, Ibnu Hazm dan lainnya.

    2. Kelompok Kedua
    Mereka adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu. Mereka adalah kebanyakan ulama, para imam mazhab yang empat serta para ulama salaf dan khalaf.
    Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadits dhaif antara lain, sebagaimana diwakili oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi rahimahumalah, adalah:
    • Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. Sedangkan hadits dha’if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta, atau tertuduh sebagai pendusta, atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima.
    • Hadits itu punya asal yang menaungi di bawahnya
    • Hadits itu hanya seputar masalah nasehat, kisah-kisah, atau anjuran amal tambahan. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah, juga bukan masalah hukum.
    • Ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadits itu, melainkan hanya sekedar berhati-hati.

    3. Kelompok Ketiga
    Mereka adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadits dhaif, asal bukan hadits palsu (maudhu’). Bagi mereka, sedhai’f-dha’if-nya suatu hadits, tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika.
    Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hanbali. Mazhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia. Selain itu juga ada nama Al-Imam Abu Daud, Ibnul Mahdi, Ibnul Mubarokdan yang lainnya.
    Al-Imam As-Suyuthi mengatakan bawa mereka berkata,’Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram, kami ketatkan. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya, kami longgarkan.”
    Hadits Dhaif Berbeda dengan Hadits Palsu
    Perlu untuk kita ketahui bersama bahwa hadits dhaif itu sendiri berbeda sekali dengan hadits palsu. Hadits dhaif masih dianggap sebagai hadits nabi, hanya saja sebagian ulama dengan kriteria yang sangat ketat menganggap bahwa sebagian perawinya tidak lulus standar ‘adil dan dhabith yang mereka tetapkan. Sementara ulama hadits lainnya, mungkin tidak seketat mereka dalam mencari cacat dan aib seorang perawi hadits.
    Dan yang paling terkenal sangat ketat dalam masalah menyeleksi para perawi hadits adalah Al-Imam Al-Bukhari dan juga Al-Imam Muslim. Pantaslah kalau kedua kitab shahih mereka dinobatkan menjadi kitab tershahih kedua dan ketiga setelah Al-Quran. Hal itu lantaran mereka berdua sangat streng, ketat, tajam dan ‘tidak kenal ampun’ dalam upaya mereka.
    Konon dari sekitar 50 ribuan hadits yang Al-Bukhari seleksi, hanya tersisa sekitar 5.000-an saja yang dianggap shahih. Itu pun ada banyak hadits yang terulang-ulang. Sehingga angka sesungguhnya hanya sekitar 2.000-an hadits saja.
    Rupanya, tidak semua hadits yang dianggap tidak lolos seleksi itu pasti dhaifnya. Sebab di luar hadits shahih yang ditetapkan oleh Al-Bukhari, masih banyak hadits shahih. Contohnya adalah kitab shahih yang disusun oleh Imam Muslim. Banyak sekali hadits yang tidak lolos seleksi oleh Al-Buhari, tapi oleh Imam Muslim diloloskan. Dan berlaku juga dengan sebaliknya.
    Kalau pada hadits shahih, para ulama hadits telah berbeda pendapat dalam penentuannya, maka demikian juga halnya dengan hadits dhaif, mereka pun sudah pasti berbeda pendapat juga. Maka sangat mungkin ada sebuah hadits yang dikatakan dhaif oleh si fulan, tetapi tidak didhaifkan oleh ulama lainnya.
    Kesimpulannya, khilaf atau beda pendapat itu bukan terjadi di kalangan ahli fiqih saja, tetapi di kalangan ahli hadits pun tidak kalah serunya perbedaan itu

    October 9, 2007 at 2:15 pm

  3. JazakaLlahu khayr ya ustaz… Suatu penerangan yang baguih.

    December 14, 2007 at 11:24 am

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s